IPTEK membersamai IMTAQ

Seorang mahasiswa heran ketika selesai pulang dari Masjid padahal dia usai shalat Jum'at berjamaah. Herannya dia "Kok saya setelah mendengar khutbah khotib Jumat tadi, makin bingung ya?" Katanya heran. Yang tidak diceritakan ialah ia ketiduran. Jangan-jangan bingungnya karena tertidur dan bangun pas waktu iqamah. Sehingga tidak mendengarkan isi khutbah khotib dari awal, lalu yang ditangkap kalimat terakhir dari Khotib tersebut.

Ada guyonan bahwa untuk mengetahui kita berhasil berjamaah shalat Jum'at dengan baik atau tidak, maka cara mudah ialah dengan tidak tidur ketika khotib menyampaikan khutbah Jum'at nya. Jika tertidur dari awaltabdanya tidak bisa mengendalikan diri, tidak sesuai dengan tujuan  shalat Jum'at. Ini hanya bercanda. Tentu saja kualitas ibadah shalat Jum'at baik dan tidak baik bukan diukur dengan tidur atau terbuka nya mata ketika mendengar khutbah. Tujuan shalat Jum'at tidak untuk hanya mendengar ceramah. Akan tetapi memperkuat tali persaudaraan sesama umat muslim.

Ketika kita berjamaah di masjid, jadwal shalat kita tepat waktu. Ada Adzan dan iqomah, ini beda dengan ketika kita ibadah shalat sendiri dirumah.

 Mahasiswa ini hanya mendengar ucapan "IPTEK dan imtaq harus berjalan bersama". Dari sinilah yang membuat mahasiswa ini menjadi heran. Karena dia tidak mengikuti dari awal ceramah sang Khotib. Dari ucapan itu rasanya adalah sudah menjadi semboyan yang sering kita dengar dalam ceramah-ceramah dan majlis ta'lim. Rasanya, masa wabah sekarang ini adalah saat tepat untuk menguji semboyan yang sering diucapkan oleh Khotib. Caranya adalah: para pemilik imtaq mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh para dokter dan para pakar virus. Yaitu notabene adalah para pemilik iptek.

Tentu ini juga sejalan dengan apa yang kita alami sekarang. Dimana warga Indonesia dihadapkan dengan pandemi covid19 yang semakin mengganas yang sudah menjangkiti hampir dua seluruh wilayah Indonesia dan memakan korban  sampai ratusan.

Selaras semboyan andalan para Khotib dimana IPTEK dan imtaq harus berjalan bersama. Maka sesungguhnya berjalan  bersama adalah komitmen antara teknologi dan islam. Selamat pandemi covid19 terus menerus kita dilatih bisa mengendalikan ego seorang muslim yang enggan dan memberi jarak pada teknologi yang terus meningkat dan maju ini. Mengapa harus berlatih mengendalikan ego?

Karena orang yang tidak mampu mengendalikan ego maka akan mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya bahkan celaka. Ibarat kendaraan yang tidak ada remnya. Atau ada tapi remnya blong, tidak berfungsi. Pasti sangat berbahaya. Bahayakah untuk dirinya sekaligus bahaya bagi orang lain. Sama halnya dengan kasus pandemi Covid19 ini, dimana kita diminta untuk menaati pedoman kesehatan yang dihasilkan oleh pemilik imtaq yaitu dokter dan para ahli virus.

Memang tidak mudah menjalankan sebuah himbauan tersebut. Namun dalam hal ini mari kita turut samina' wa Atho'na kepada himbaun pedoman kesehatan dan pemerintah.
Lebih dari itu banyak pelajaran yang kita petik dalam peristiwa pandemi covid19 ini. Ibarat anak sekolah yang sedang melaksanakan ujian. Hanya beberapa jam melaksanakan ujian sekolah. Sama halnya ini manusia diuji tidak dengan kesusahan yang berlarut-larut, karena Allah SWT tidak akan memberi ujian diluar kemampuan hambanya.  Sebagai iktibar jangan lupa tetap ngaji, amalkan yang baik, dan lestarikan aktivitas-aktivitas keislaman.

Dendi Yusuf Prasetiyo
Mahasiswa Studi Agama-agama Universitas Muhammadiyah Surabaya



Salam Perjuangan!!! Salam Literasi!!!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel